Kokuhaku (Confession)

kokuhaku

kokuhaku

Confession, atau di judul aslinya Kokuhaku adalah film yang ‘tidak sengaja’ saya tonton. Biasanya saya hanya menonton film animasi adventure kayak spirited away, Up, atau film komedi romantis, drama percintaan perselingkuhan dan sebagainya. Namun kemarin setelah menonton film Thailand  The Billionaire Top Secret, saya mencari lagi film-film inspiratif, dan Nemu judul Kokuhaku di salah satu blog. Pertama denger judulnya saya pikir ini adalah drama jepang yang isinya kayak di komik cantik, semacam cewek-cewek yang mau nembak cowok pas hari valentine sambil ngasih cokelat bikinan sendiri.. 😀 tapi ternyata saya salah besarr..

Kokuhaku ini adalah sejenis film drama psikologis yang bikin sedikit mikir bagi orang yang biasanya nonton film-film ringan seperti saya 😀 pertama saya menonton saya sama sekali nggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi, karena saya nonton tanpa subtitle >,< disaat seperti itu saya sangat berharap seandainya bahasa jepang saya sudah JLPT level 1 😀 well, akhirnya saya mendownload subtitle dan menikmati tontonan baru.

Pertama menonton kita akan disajikan suasana kelas yang berisik, dimana murid-murid sibuk sendiri kemudian seorang guru menyatakan akan mengundurkan diri, dan ini adalah bulan terakhirnya dia mengajar. Sebelum mengundurkan diri dia menyampaikan sesuatu yang nantinya menjadi pokok persoalan yang dibahas di film ini. Bagaimana hal yang disampaikan oleh guru tersebut mempengaruhi orang-orang yang terlibat menjadi sangat menarik untuk diikuti.

Menurut saya film ini sangat menarik, walaupun banyak darah berceceran yang sedikit membuat saya takut, tapi saya berhasil menonton sampai akhir dan menikmati ceritanya. Saya tidak akan menceritakan jalan cerita dan endingnya karena nanti akan mengurangi sensasi menonton kan? 😀

Ternyata sekali-kali menonton genre film yang berbeda dari yang biasanya kita tonton nggak ada salahnya juga 😀 Setelah saya menonton film Kokuhaku entah kenapa saya jadi memikirkan salah satu tulisan Tetsuko Kuroyanagi yang saya baca di buku Toto Chan. Katanya, di daerah yang rawan konflik dan kelaparan, anak-anak masih bisa tertawa dan bertahan hidup dengan segala keterbatasan yang ada, ironisnya di Jepang yang negaranya  maju dan berkembang banyak sekali kasus bunuh diri yang melibatkan Kaum muda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s